Walisongo




Sejarah Walisongo bisa dibaca di buku “Atlas Wali Songo” Karangan Prof. Dr. Agus Sunyoto



Makam Sunan Bonang



Makam Sunan Ampel



Makam Sunan Drajat




Makam Sunan Giri


Makam Sunan Gunung Jati



Makam Sunan Kalijaga




MakamSunan Kudus




Maulana Malik Ibrahim
(Wafat 1419)

Makam Sunan Muria

 


Suluk Linglung dan Perjalanan Ruhani Sunan Kalijaga

Sunday, 27 April 2014

  
Ular lambang Nafsu Lwammah
            Berbeda dengan biasanya, Ngaji Suluk ngAllah Sabtu Kliwonan (26/4) kali ini diawali dengan tembang Ana Kidung Rumeksa ing Wengi gubahan Sunan Kalijaga yang dikumandangkan DR Riyanto Hangendali, MM, dosen FIA Universitas Brawijaya Malang, Setelah menguraikan makna tembang itu, dengan mengutip beberapa pupuh tembang dari Wedhatama, Riyanto Hangendali menguraikan sekilas perjalanan ruhani yang digambarkan yang penuh  dengan lambang-lambang dan pasemon yang sangat rahasia yang hanya bisa difahami dengan kewaskitaan. Sunan Kalijaga sebagai maestro kebudayaan Nusantara, ungkap Riyanto, telah meninggalkan warisan peradaban dan kebudayaan yang adiluhung yang dewasa ini justru dipelajari oleh orang-orang dari Negara lain. 
              Kisah Sunan Kalijaga sendiri,  diketahui tersebar di sejumlah naskah yang menggambarkan  kisah perjalanan ruhani Sunan Kalijaga dengan berbeda satu sama lain meski terdapat kemiripan dan kesamaan esensi. “Sedikitnya ada tiga naskah  yang  menuturkan perjalanan ruhani Sunan Kalijaga dalam bentuk cerita naratif,” papar K. Ng. H. Agus Sunyoto melengkapi penjelasan Riyanto.

            Kisah pertama diriwayatkan dalam serat Nawaruci/Dewaruci, yang dimainkan lewat seni pertunjukan wayang purwa, di mana pengalaman ruhani Sunan Kalijaga digambarkan secara simbolik sebagai perjalanan tokoh Bima atau Werkudara mencari susuhing angin . Dalam bahasa Sansekerta Bhima memiliki arti kuat, sedangkan Werkudoro dari bahasa Sansekerta Wrekodara bermakna serigala. Panggilan serigala dilekatkan padanya oleh karena ia adalah insan yang kuat dan tangguh, mampu mengalahkan  dua orang anak  Dristarasta, yaitu Duryudana dan Dursasana. Bahkan usai membunuh Dursasana, Bhima meminum darahnya dengan lahap. Sangkuni pun dibunuh Bhima dengan cara dirobek mulutnya sampai rahang terbelah ke leher.

Raksasa Kembar Lambang Nafsu Ammarah
         Dalam perjalanan mencari iar pawitra sari, Bhima digambarkan melawan raksasa di hutan dan sewaktu masuk ke lautan bertarung dengan seekor  ular naga yang semuanya mampu dikalahkan dengan kekuatannya  sampai ia berada di tengah laut. Di sinilah Bima bertemu dengan Dewaruci, di mana sosok Dewaruci sangat mirip dengan Bima namun memiliki ukuran tubuh lebih kecil. “Masuklah ke dalam diriku!” perintah Dewaruci kepada Bhima. Sontak Bima menyanggah, “Bagaimana mungkin? Ukuran tubuhmu lebih kecil dibanding dengan tubuhku yang kekar dan kuat.”
               “Masuk saja tanpa memikirkan masuk akal dan tidaknya.”
                Akhirnya masuklah Bima ke dalam diri Dewaruci melalui telinga kiri. Di sana ia takjub dengan pemandangan yang disaksikannya, bahwa ia tengah berada di lautan bebas tanpa batas. Di sana ia menyaksikan cahaya empat warna; hitam, kuning, merah dan putih. Dalam tafsir, warna hitam melambangkan nafsu Lwammah, di mana itu merupakan nafsu dalam diri manusia yang dipenuhi dengan keserakahan dan kerakusan,nafsu kepemilikan, sehingga bila perlu dunia digenggam sendiri menjadi miliknya. Warna kuning merupakan simbol nafsu Sufliyah; nafsu yang bersemayam dalam diri manusia, yang merupakan sumber  sifat erotis dan syahwat manusia. Warna merah melambangkan nafsu Ammarah, nafsu yang membawa manusia pada api dendam, benci, iri, dengki dan sejenisnya. Warna putih melambangkan nafsu Muthma’innah, yaitu nafsu yang menghendaki ketentraman, kenikmatan dan kenyamanan. Tidak berhenti pada pemandangan atas empat warna, naik setingkat lebih tinggi, Bhima memasuki alam ruh yang membuatnya tak ingin kembali ke dunia. Namun oleh karena perintah Dewaruci, Bima kembali ke Amarta dan turut membantu saudara-saudaranya dalam perang Bharatayudha.
Membelah dua gunung lambang Nafsu Sufliyah
           Kisah kedua, lanjut Agus Sunyoto, disajikan dalam Suluk Syekh Malaya dan Serat Kandaning Ringgit Purwa. Dalam versi ini, Sunan Kalijaga dikisahkan berguru kepada Syekh Daraputih di Malaka di kampung Pulau Upih. Sunan Kalijaga diperintahkan untuk mencari  hidayah Allah Swt dengan melakukan ibadah haji. Maka berangkatlah Sunan Kalijaga ke Mekah. Sesampainya di Negeri Pasai, Sunan Kalijaga bertemu dengan Syekh Maulana Al-Maghribi. Ditanyalah ia, “Wahai Sahid, sudah tahukah engkau hakikat dari perjalanan haji? Jika engkau belum memahaminya, niscaya kamu hanya akan menemukan sebongkah batu yang mana jika engkau menyembahnya, itu berarti engkau sama dengan orang-orang musyrik.” Dari pertemuan itu, kembalilah Sunan Kalijaga ke Malaka dengan membawa bekal amalan wirid  dari Syekh Al-Maghribi yang diamalkan untuk mencari Allah di dalam diri sendiri. Pandangan Syekh Maulana Maghribi adalah khas pandangan sufisme, yaitu pandangan yang berbeda dengan kebanyakan manusia yang meyakini  Allah Swt hanya dari “katanya ini, katanya itu, kata  mereka, katanya guru” dan seterusnya. Padahal Allah Swt lebih dekat dari urat leher  manusia, yang itu berarti hakikat Dia sejatinya Ada di dalam diri manusia itu sendiri. Sebuah hadits Qudsi berbunyi, “Aku tidak bisa berada di bumi, tidak pula bisa berada di langit, tapi aku bisa berada dalam hati hambaKu yang mukmin.”  Maka selama hati belum terbuka, akan menjadi kesulitan yang pasti bagi manusia untuk mengenal Tuhannya.
               Kisah ketiga perjalanan Sunan Kalijaga dihadirkan dalam naskah Suluk Linglung, di mana dalam suluk ini, Sunan Kalijaga digambarkan berguru kepada Sunan Bonang dan sebagaimana dikisahkan dalam Suluk Syekh Malaya, Sunan Kalijaga diperintah oleh Sunan Bonang melaksanakan ibadah haji untuk mencari  hidayah Allah Swt. Di tengah perjalanan, ketika sampai di lautan yang luas, ia bertemu dengan seorang manusia yang  berjalan di atas air. Manusia ini dikenal dengan nama Nabi Khidir. Lalu Khidir bertanya, “Hendak kemana engkau?” “Menunaikan Haji ke Mekah,” jawab Sunan  Kalijaga singkat. “Apakah kamu sudah benar-benar memahami hakikat haji? Jika belum, engkau hanya akan bertemu dengan  batu, tanpa tahu siapa pemiliknya,” lanjut Khidir sembari memerintahkan Sunan Kalijaga untuk masuk ke dalam dirinya. Maka masuklah ia melalui telinga kiri Khidir, di sana ia mendapati lautan luas tanpa batas, tetapi ia melihat cahaya empat warna yang merupakan simbol nafsu yang ada dalam diri manusia.
Dewaruci Lambang Ruh Idhofi
            Dari tiga kisah di atas, dapat dipahami bahwa dalam diri manusia terdapat hakikat ruhani dari ruh suci yang ditiupkan Allah saat penciptaan Adam. Ruh suci itulah yang tersembunyi di dalam qalbu manusia. Setelah melewati keempat nafsu yang digambarkan berwarna hitam-merah-kuning-putih, maka akan ketemu dengan cahaya hijau simbol dari ruh idhofi, di mana ruh idhofi inilah yang disebut dengan nama Khidir, Khodir, Dewaruci, Ruh Suci yang menjadi selubung dari   Ruh al-Haqq yang akan menjadi barzakh sekaligus penghubung antara Yang Ilahi dengan alam ciptaan. Ruh Idhofi inilah yang pemberi petunjuk jalan menuju Sang Pencipta, ruh yang disebut  mursyid sejati, ruh ilahi yang bersemayam dalam diri manusia yang telah Tuhan tiupkan sebagaimana firmanNya dalam al-Qur'an surah Shod:
“Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; Maka hendaklah kamu sekalian  bersujud kepadanya".
                Maka hanya melalui ruh inilah manusia akan benar-benar sampai pada Tuhannya. Namun, untuk mencapai ruh idhofi bukan perkara yang mudah. Ungkap Agus Sunyoto memperingatkan, karena manusia masih harus melewati berlapis-lapis nafsu yang menyelubung diri. Akan banyak aral melintang menghalangi. Kita ambil contoh sahabat Nabi Saw,  Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang sangat bijaksana dan waskita, setelah 13 tahun lamanya bersama Rasul Saw. Pada saat  diajak hijrah, dikejar-kejar kaum Quraisy. Abu Bakar  bersembunyi di Gua Tsur bersama Nabi Saw. Saat itu  seorang pemuda  Quraisy masuk dengan sebilah pedang di tangan. Menyaksikan itu  Abu Bakar gemetar dan menangis sambil berucap, “Yang aku khawatirkan adalah keselamatanmu wahai Nabi Allah.” Melihat Abu Bakar ketakutan Nabi Saw yang beroleh wahyu berkata, innallaha ma’anaa, “Saat itulah, Abu Bakar menyaksikan Allah dalam makna araftu robbi birobbi, menyaksikan Allah dengan kuasa Allah dalam makna ma’rifat sehingga lenyaplah semua ciptaan yang tergelar di sekitar, yang Ada hanya Allah semata sebagai Yang Wujud. Saat itulah, Abu Bakar baru benar-benar mengenal Allah dalam makna yang sebenarnya. “Oleh karena itu  jangan seperti orang yang  sok sudah kenal Allah, baru belajar Islam 2-3 minggu sudah merasa dirinyalah yang paling benar  lalu mengkafir-kafirkan yang lainnya. Sungguh, jalan menuju Allah membutuhkan jihad (perjuangan) yang luar biasa. Jika manusia bisa melampaui ujian-ujian dengan jihadnya, niscaya terbukalah jalan-jalan sebagaimana firman Allah Swt dalam al-Qur’an;
           “Dan orang-orang yang berjihad  menuju Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
             “Semoga sepintas ngaji dengan menggali khazanah warisan Wali Songo ini dapat memberikan manfaat dan barokah kepada kita semua. Al Fatihah,” ujar  Agus Sunyoto mengakhiri ngaji Suluk ngAllah.
Posted by Tina Siska Hardiansyah  http://pesantrenbudaya.blogspot.com/2014/04/suluk-linglung-dan-perjalanan-ruhani.html