Jumat, 27 Februari 2015

Belajar Hadits

Ferlu aki" dan nini " wahasiwa mahasiswi UMI ketahu ...Para sahabat belajar sholat misalnya itu langsung praktek sholat dgn Nabi loo. Bukan baca kitab Hadits karena kitab Hadits belum ada. Begitu pula dgn anak para Sahabat yaitu generasi Tabi'in. Para Imam Mazhab yg dari Tabi'it Tabi'in juga begitu. Praktek sholat langsung dgn para Ulama Tabi'in meski mulai mengumpulkan hadits2.
Tahu tidak kapan 2 Hadits tersahih dibukukan? Imam Bukhari itu lahir tahun 196 Hijriyah. Membukukan Sahih Bukhari sekitar tahun 240 H. Imam Muslim lahir setelah Imam Bukhari.
Jadi generasi Salaf itu belajar dgn cara praktek langsung dgn para Ulama / Salafus Saleh. Bukan dgn mengkaji Kitab Bukhari dan Muslim karena itu belum ada.
Makanya di Hadits ada disebut Orang Tua wajib mengajarkan anaknya sholat saat usia 7 tahun dan memukulnya jika tidak sholat pada usia 10 tahun. Sudah pada baca hadits itu belum?
Apa ada orang2 di sini yang bisa sholat dari cuma membaca kitab hadits saja? Tidak belajar sholat dari orang tua / guru2 mereka?
Bahkan para Imam Hadits terkemuka seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Hajar, Imam Nawawi dsb saja belajar sholat dgn mengikuti Mazhab Syafi'e. Bukan dgn mempelajari hadits2 yg mereka kumpulkan karena jumlahnya tidak cukup. Dari 1 juta hadits yg dikumpulkan Imam Bukhari, hanya 7000-an yg disahihkan. Itu tidak cukup untuk membuat pedoman cara sholat lengkap:
ulama-ulama yang terkemudian yang mengikuti dan turut menyebarkan Mazhab Syafi'i, antara lain:
Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari
Imam Bukhari
Imam Muslim
Imam Nasa'i
Imam Baihaqi
Imam Turmudzi
Imam Ibnu Majah
Imam Tabari
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani
Imam Abu Daud
Imam Nawawi
Imam as-Suyuti
Imam Ibnu Katsir
Imam adz-Dzahabi
Imam al-Hakim
Lihat betapa banyaknya Imam2 Hadits terbesar di dunia yang hafal Al Qur'an dan menguasai ratusan ribu hadits dgn rendah hati sholat dgn mengikuti Mazhab Imam Syafi'ie.
Masak kalian yang belum tentu hafal Juz 'Amma dgn sombong mencoba menggali sendiri kitab2 hadits agar bisa sholat sesuai sunnah Nabi. Tidak semua perbuatan ayah anda, anda tulis dalam "Hadits". Begitu pula tidak semua Sunnah Nabi dituliskan para Sahabat ke dalam Hadits. Tapi Sunnah Nabi tsb mengalir lewat Sunnah Sahabat yg meniru Sunnah Nabi. Begitu seterusnya.
Posisi kepala, tangan, kaki, jari, dsb itu sulit dituliskan dgn hadits. Jadi harus praktek langsung. Cara terbaik belajar silat adalah dgn praktek langsung dgn guru2 silat. Tidak bisa orang cuma baca kitab silat akhirnya bisa jadi ahli silat.
Aneh jika seorang tukang servis jam hingga usia 20 tahun seperti Albani yang belajar sendiri di perpustakaan tiba2 jadi Ahli Hadits yg lebih hebat daripada Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Hajar dsb dan menulis cara Sholat Nabi yg ternyata bertentangan dgn cara yang dicontohkan oleh para Imam Mazhab. Memangnya dia punya mesin waktu Dora Emon sehingga bisa pergi dari abad 14 Hijriyah ke 1 Hijriyah untuk melihat Nabi sholat.
Itu saja dulu materi hari Ini
‪#‎Sarkub‬ ‪#‎Aswaja‬ ‪#‎KampusMenyan‬
 salam menyann ,,,

Rabu, 11 Februari 2015

TAWASUL


Tawassul, istisyfa’, istighatsah, tawajjuh, dan tajawwuh memiliki ragam bentuk dan redaksi sebagai berikut :
1.       Dengan menggunakan huruf jarr baa’ seperti dalam tawassul yang diajarkan Nabi kepada orang buta tersebut:
"اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِـنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَة".
Juga seperti tawassul yang umumnya dibaca oleh ummat Islam dalam contoh dzikir:
"يَا رَبِّ بِالْمُصْطَفَى بَلِّغْ مَقَاصِدَنَا وَاغْفِرْ لَنَا مَا مَضَى يَا وَاسِعَ الْكَرَمِ"
Juga tawassul dalam Shalawat Badar:
"تَوَسَّلْنَا بِبِسْمِ اللهْ وَبِالْهَادِيْ رَسُوْلِ اللهْ
وَكُلِّ مُجَاهِدٍ لِلّهْ بِأَهْلِ الـْبَدْرِ يَا اَللهْ"
Juga dalam Shalawat Nariyyah:
"اَللّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً، وَسَلِّمْ سَلاَمًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ العُقَدُ، وَتَنْفَرِجُ بِهِ الكُرَبُ …".
 
2.       Dengan menggunakan baa’ disambung dengan lafazh Haqq atau Jaah, Karaamah, Barakah dan semacamnya seperti dalam doa yang dianjurkan dibaca ketika pergi ke Masjid Jami’:
"اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِيْنَ عَلَيْكَ وَبِحَقِّ مَمْشَايَ هَذَا…". (رَوَاهُ أحْمدُ في الْمُسنَد والطّبَرَانِيّ في الدعاء وابن السُّنِّيِّ في عمل اليوم والليلة والبيهقيّ في الدعوات الكبير وغيرهم وحسَّنَ إسنادَه الحافظ ابن حجر والحافظ أبو الحسن الْمَقدِسيّ والحافظ العراقيّ والحافظ الدمياطيّ وغيرهم).
 
3.       Dengan menggunakan Nida’ (memanggil) seperti yang diajarkan oleh Nabi kepada orang buta tersebut di atas: "…يَا مُحَمَّدُ إِنِّيْ أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّيْ فِيْ حَاجَتِيْ لِتُقْضَى لِيْ".
 
4.       Dengan mendatangi kuburan dan mengucapkan redaksi Nida’ seperti yang dilakukan sahabat Bilal ibn al Harits al Muzani di saat musim paceklik di masa pemerintahan Umar ibn al Khaththab sebagaimana diriwayatkan dan disahihkan oleh oleh al Hafizh al Bayhaqi, Ibnu Katsir, al Hafizh Ibnu Hajar dan lainnya. Bilal ibn al Harits al Muzani mendatangi kuburan Nabi dan mengatakan:
 
" يَا رَسُوْلَ اللهِ اسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا ".
 
 Tawassul dalam bentuk ini diterapkan oleh umat Islam dalam dzikir Salamullah Ya Sadah ketika mendatangi makam para wali:
سَلاَمُ اللهِ يَاسَادَةْ ۞ مِنَ الرَّحْمٰنِ يَغْشَاكُمْ
عِبَادَ اللهِ جِئْنَاكُمْ ۞ قَصَدْنَاكُمْ طَلَبْنَاكُمْ
تُعِيْنُنَا تُغِيْثُوْنَا ۞ بِهِمَّتِكُمْ وَجَدْنَاكُمْ
وَأَحْبُوْنَا وَأَعْطُوْنَا ۞ عَطَايَاكُمْ هَدَايَاكُمْ
فَلاَخَيَّبْتُمُوْا ظَنِّيْ ۞ فَحَاشَاكُم وَحَاشَاكُمْ
سَعِدْنَا إِذْ أَتَيْنَاكُمْ ۞  وَفُزْنَا حِيْنَ زُرْنَاكُمْ
فَقُوْمُوْا وَاشْفَعُوْا فِيْنَا ۞ إِلٰى الرَّحْمٰنِ مَوْلاَنَا
عَسٰى نَحْظٰى عَسٰى نُعْطٰى ۞ مَزَايَا مِنْ مَزَايَاكُمْ
عَسٰى نَظْرَةْ عَسٰى رَحْمَةْ ۞ تَغْشَانَا وَتَغْشَاكُمْ
سَلاَمُ اللهِ حَيَّاكُمْ ۞ وَعَيْنُ اللهِ تَرْعَاكُمْ
وَصَلَّى اللهُ مَوْلاَكُمْ  ۞ وَسَلَّمَ مَاأَتَيْنَاكُمْ
عَلٰى الْمُخْتَارِ شَافِعِيْنَا ۞ وَمُنْقَدِنَا وَإِيَّاكُمْ

TAHLILAN

Mbah katanya masih suka nglakuin Tahlilan ya ??
Iya le , alhamdulillah istiqomah fmalah full menyan wal barokah smile emoticon
Ketahuliah mbah Tahlilan itu Bid'ah !! Pelakunya masuk neraka !!!
Mosos si lee ?? Orng tahlilan ko masuk neraka ? Kayanya aneh le dengernya ,
Apa mbah pernah ngaji hadis ! Tahlil itu bid'ah dolalah ,neraka mbah tempat pelakunya !!!
Walahhhhh ...ngko disit le ojo grusa gurus ngomong neraka !! aku meh takon le marang awakmu
Takon opo mbah !!!
Menurut sampean moco لاإله إلاالله kui apik apa nga lee ??
"" Apik itu iku mbah ,,wong kanjeng nabi saja sampe ngomong , Kunci surga itu baca لاإله إلاالله
"""Ohh beratoi moco لاإله إلاالله itu apik ya le ! Kalo baca سبحان الله itu pie le , apik apa nga ?
"" Apik tenan mbahh ,,banyak hadis sohih yang menerangkan padilah baca'an سبحان الله
Ohhh iya iya lee ,,skrng kalo baca الحمد لله.pie le baik apa ngga ??
"" Antum itu gimana si !! Masa seroang Dosen ko nanya seperti itu ? Baca الحمد لله. Ya jelas baik lah !! Wong kita di anjurkan untuk selalu memuji Allah kok !!
"""Hehe iya lee namanya juga nanya tohh ...
Sekarang kalo baca 1. Surat al-Ikhlas ,Surat al-Falaq ,Surat an-Nas ,Surat al-Baqarah ayat 1 sampai ayat 5 الم ذلك الكتاب , Surat al-Baqarah ayat 163 والهكم إله واحد , Surat al-Baqarah ayat 255 الله لاإله إلا هو الحي القيوم . Surat al-Baqarah ayat dari ayat 284 samai ayat 286 لله مافي السموات , Surat al-Ahzab ayat 33 إنما يريد الله ,Surat al-Ahzab ayat 56إن الله وملائكته يصلون على النبي ........ Menurut kamu baik apa nga baik??
""" Ya baik lah mbah ..itu semua kan Ayat" suci al Qur'an pasti ya jelas baik lah ..yai ini bagimana siiii !!
LAH ITU SEMUA ISI YANG DIBACA KETIKA TAHLILAN , TERUS MANA YANG BID'AH ? MANA YANG SESAT ????? ANEHHH KAMU INI LEEE !!! MANA COBA YANG BID'AH ??
...."" Anu anu anu Mbah yang bid'ah perkumpulanya ??
Tadi katanya Tahlialnya yang bida'ah sekarang perkumpulanya !!
Wong dalam hadis saja jelas le di terangkan
خَرَجَ رَسُولُ الله (صَ) عَلَى حَلَقَةِ مِنْ أصْحَابِهِ فَقَالَ: مَا اَجْلََسَكُم ؟ قَالُوْا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإسْلاَمِِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ: اللهُ مَا أجْلَسـَكُمْ إلاَّ ذَالِك ؟ قَالُوْا وَاللهُ مَا اَجْلَسَنَا اِلاَّ ذَاكَ. قَالَ : اَمَا إنِّي لَمْ أسْتَخْلِفكُم تُهْمَةُ لـَكُمْ, وَلَكِنَّهُ أتَانِي جِبْرِيْلُ فَأخْـبَرَنِي أنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبـَاهِي بِكُمُ المَلآئِكَةَ.
"" Ehh. Ehhh eh yang Bid'ah dan sesat itu Jamuan makananya mbahh!!
"" Le koe iki gimana si ga konsisten acan acan !! Tadi tahilanya dibilang sesat !! Stelah saya nanya malah pindah katanya perkumpulanya yang sesat !! Lo stelah saya kasih hadis giliran jamuan makananya yang di katain bid'ah sesat !! Lucuu koe lee , ustad "mu aja. Bilang Bid'ah itu hanya dalam urusan agama ! Lah iki urusan badogan ko ada bid'ah " segala ,,,???
Anu anu mbahhh saya saya saya kebelet pipiss frown emoticon
Pamit dulu mbahhhh
Wahhh koe kayae perlu di ruat lee ben otake warasss
‪#‎Sarkub‬ ‪#‎Aswaja‬ ‪#‎KampusMenyan‬
PENGERTIAN BID'AH

Felajaran tentang BID'AH
Sebelum dibaca lebih apdolll Bikin Coffi dulu terus sambil ngobong Menyannn
Biasanya yang bicara Bid'ah Boida'ah itu kan Ngulama Wahabi ,nah skrng Kamfsu UMI akan mencoba Membedah tentang BID'AH dengan bebrapa Aspek Ilmu
-Ilmu Balaghoh -
-Nahwu
-Shorof
-Ushul Fiqih
Fendahuluan
Sebagaimana kita ketahui belakangan bnyk skali orang yang berfatwa bahwa Maulidan Bidah tahlilan Bidah Haul bidah dll bahkan sampe bilang Kentongan Bid'ah ckckckck
Merka merujuk sebuah hadis
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
Sayangnya merka memahami hadis ini membabi buta sehingga fatwa " nylneh pun keluar dari bibi"r para chybi wahabi
Okee langsung sajaaaa
Seruputt dulu coffinya biar fresss
Mari kita bahs sedikit tentang lafad
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
Pada lafad di atas lafad
بِدْعَةٍ itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas;
Dalam Ilmu Balaghah dikatakan,
حدف الصفة على الموصوف
“membuang sifat dari benda yang bersifat”.
Jadi jika ditulis lengkap dengan sifat dari bid’ah kemungkinannya adalah
a. Kemungkinan pertama :
كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
Semua “bid’ah yang baik” itu sesat (dholalah), dan semua yang sesat (dholalah) masuk neraka
Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat (dholalah) berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil.
b. Kemungkinan kedua :
كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِىالنَّاِر
Semua “bid’ah yang jelek” itu sesat (dholalah), dan semua yang sesat (dholalah) masuk neraka
Jadi kesimpulannya bid’ah yang sesat masuk neraka adalah bid’ah sayyiah (bid’ah yang jelek).
Hal ini sesuai pula jika ditinjau dari ilmu nahwu
Kalimat bid’ah (بدعة) di sini adalah bentuk ISIM (kata benda) bukan FI’IL (kata kerja).
Dalam ilmu nahwu menurut kategorinya Isim terbagi 2 yakni Isim Ma’rifat (tertentu) dan Isim Nakirah (umum).
Nah.. kata BID’AH ini adalah isim Naqiroh
Apa itu isim naqiroh Mbahhh
Sperti dalam Kitab Alfiah Ibnu Malik di terangkan
Yang namnya isin naqiroh adalahh:
نَكِرَةٌ قَـــــابِلُ أَلْ مُؤثِّــــرَاً ¤ أَوْ وَاقِعٌ مَوْقِعَ مَا قَدْ ذُكِرَا
Nakirah adalah Isim yang dapat menerima AL pemberi bekas ma’rifat, atau Isim yang menempati tempatnya Isim tersebut (dapat menerima AL Ma’rifat)
Soo sangat jelas kalo lafad بدعة adalah kalimah isim Naqiroh
Kenapa tidak isim Ma'rifat saja Mbahh??
Kalimah isim ma'rifitu cuman ada 5
1. Isim dhomir
2. Isim alam
3. Isim isyaroh
4. Isim maushul
5. Ber alif lam
Dal lafad بدعة bukan merupakan bagian dari Isim Ma’rifat.
Jadi kalimat bid’ah di sini
كُلُّ adalah Isim Nakiroh dan di sana berarti tidak ber-idhofah (bersandar) kepada salah satu dari yang 5 di atas. Seandainya
كُلُّ ber-idhofah kepada salah satu yang 5 di atas, maka ia akan menjadi ma’rifat. Tapi pada ‘
كُلُّ بِدْعَةٍ’, ia ber-idhofah kepada.
nakiroh. Sehingga dhalalah-nya adalah bersifat ‘am (umum). Sedangkan setiap hal yang bersifat umum pastilah menerima pengecualian.
Contoh Contoh lafal umum yang dikhususkan dengan al-hiss, seperti firman Allah:
تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لا يُرَى إِلا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
"Angin yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa." (QS Al-Ahqoof : 25).
Tentunya indra kita mengetahui bahwasanya kenyataannya tidak semuanya yang dihancurkan oleh angin tersebut, langit dan bumi tidak dihancurkan oleh angin tersebut buktinya sampe skrng masih ada too hehe
. Lafad كُلَّ berarti tidak harus bermakna semua tapi ada juga sebagian
Begitu juga dalam lafad
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
Tidak semua bidah itu sesat
Hal ini juga di tegaskan Ulama yang sholeh, bersanad ilmu tersambung kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam seperti Imam Nawawi ra yang bermazhab Syafi’i mengatakan
قَوْلُهُ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ هَذَاعَامٌّ مَخْصٍُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ .
“Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam, “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush, kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Jadi yang dimaksud adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (Syarh Shahih Muslim, 6/154).
Kesimpulanya sudah sangat jelas Bahwa tidah semua bidah itu sesat sperti kebanyakan perkata'an " wahabi yang mengartikan sebuah hadis dengan membabi buta
Sehingga merekapun mengeluarkan fatwa
Tahlilan maulidan dll pokoknya sgala sesuatu Amalan yang tidak ada di zaman Rosulullah adalah Bidah
Padahal Bidah sendiri bukanlah sebuah hukum
Dalam Ushul Fiqih
Hukum islam sendiri sudah jelas kalo hukum Islam ada 5
Majib
Sunah
Mubah
Makruh
Haram
Ga ada satu Imam Madhab menjadikan Bidah sebuah hukum
Bidah adalah sesuatu yang harus di hukumi
Ada lagi Kebiasaan wong " wahabi menggunakan hadis ini untuk menuduh amalan kita dengan kata Bidah
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
“ Barangsiapa yang berbuat hal baru yang tidak ada
perintahnya, maka ia tertolak “
_____________________
Mari kita udari hadis tersebut dengan berbagai alat heeh e
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Benarkah hadits ini bermakna :
“ Barangsiapa yang berbuat hal baru yang tidak ada
perintahnya, maka ia tertolak “
Mari kita bahas sedikit
Hadis ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Kita coba dulu
Meninjau dari sisi ilmu lughoh :
- I’rab nahwunya :
ﻣﻦ : adalaha isim syart wa jazm mabniyyun ‘alas sukun fi
mahalli rof’in mubtada’ wa khobaruhu aljumlatus
syartiyyah ba’dahu.
ﺍﺣﺪﺙ : Fi’il madhi mabniyyun ‘alal fathah fii mahalli jazmin
fi’lu syarth wal fa’il mustatir jawazan taqdiruhu huwa.
ﻓﻲ : Harfu jar
ﺍﻣﺮﻧﺎ :majrurun bi fii wa lamatu jarrihi alkasrah, wa naa
dhomirun muttashil mabnyyyun ‘alas sukun fii mahlli
jarring mudhoofun ilaihi
ﻫﺬﺍ : isim isyarah mabniyyun alas sukun fi mahalli jarrin
sifatun liamrin
ﻣﺎ : isim mabniy fii mahhli nashbin maf’ul bih
ﻟﻴﺲ : Fi’il madhi naqish yarfa’ul isma wa yanshbul khobar
,
wa ismuha dhomir mustatir jawazan taqdiruhu huwa
ﻣﻨﻪ : min harfu jarrin wa hu
dhomir muttashil mabniyyun
alad dhommi wahuwa littab’iidh
ﻓﻬﻮ : al-faa jawab syart. Huwa dhomir muttashil
mabniyyun alal fathah fi mahalli rof’in mubtada
ﺭﺩ : khobar mubtada marfuu’un wa alamatu rof’ihi
dhommatun dzhoohirotun fi aakhirihi. Wa umlatul
mubtada wa khobaruhu fi mahalli jazmin jawabus syarth.
------------------------------------------»
Dari uraian sisi nahwunya maka bermakna :” Barangsiapa
yang melakukan perkara baru dalam urusan kami yaitu
urusan syare’at kami yang bukan termasuk darinya, tidak
sesuai dengan al-Quran dan hadits, maka perkara baru
itu ditolak “
Makna makna tsb sesuai dengan statement imam Syafi’i yang
sudah masyhur :
ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻭﺧﺎﻟﻒ ﻛﺘﺎﺑﺎ ﺃﻭ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺇﺟﻤﺎﻋﺎ ﺃﻭ ﺃﺛﺮﺍ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻀﺎﻟﺔ، ﻭﻣﺎ
ﺃﺣﺪﺙ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﻴﺮ ﻭﻟﻢ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﺷﻴﺌﺎ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻤﺤﻤﻮﺩﺓ
“ Perkara baru yang menyalahi al-Quran, sunnah, ijma’
atau atsan maka itu adalah bid’ah dholalah / sesat. Dan
perkara baru yang baik yang tidak menyalahi dari itu
semua adalah bid’ah mahmudah / baik “
- Istidlal ayatnya (Pengambilan dalil dari Qurannya) :
ﻭﺟﻌﻠﻨﺎ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺏ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺍﺗﺒﻌﻮﻩ ﺭﺃﻓﺔ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﻭﺭﻫﺒﺎﻧﻴﺔ ﺍﺑﺘﺪﻋﻮﻫﺎ ﻣﺎ ﻛﺘﺒﻨﺎﻫﺎ
ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺇﻟﺎ ﺍﺑﺘﻐﺎﺀ ﺭﺿﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ
“Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-orang yang
mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih sayang,
dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal
Kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi
(mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk
mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)
- Istidlal haditsnya (pengambilan dalil dari haditsnya) :
ﻣﻦ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺣﺴﻨﺔ ﻓﻠﻪ ﺃﺟﺮﻫﺎ ﻭﺃﺟﺮ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ
ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﺟﻮﺭﻫﻢ ﺷﻰﺀ، ﻭﻣﻦ ﺳﻦ ﻓﻲ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﻨﺔ ﺳﻴﺌﺔ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺯﺭﻫﺎ
ﻭﻭﺯﺭ ﻣﻦ ﻋﻤﻞ ﺑﻬﺎ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺃﻥ ﻳﻨﻘﺺ ﻣﻦ ﺃﻭﺯﺍﺭﻫﻢ ﺷﻰﺀ
“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam
sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari
perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang
melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa
berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang
siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka
baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari
orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya
tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR.
Muslim)
-----------------------------------------------------------
Skarang mari kita lihat hadis tersebut denga ilmu BALAGHOH :
Dalam hadits tsb memiliki manthuq dan mafhumnya :
Manthuqnya “ Siapa saja yang melakukan hal baru yang
tidak bersumber dari syareat, maka dia tertolak “,
misalnya sholat dengan bahsa Indonesia, mengingkari
taqdir, mengakfir-kafirkan orang,dll.
Mafhumnya : “ Siapa saja yang melakukan hal baru yang
bersumber dari syareat, maka itu diterima “
Contohnya
sangat banyak skali sprti pembukuan Al-Quran,
pemberian titik al-Quran, mauled, tahlilan, khol, sholat
trawikh berjama’ah dll.
Berangkat dari pemahaman ini, sahabt Umar berkata saat
mengkumpulkan orang-orang ungtuk melakukan sholat
terawikh berjama’ah :
ﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻫﺬﻩ
“ Inilah sebaik-baik bid’ah “
Dan juga berkata sahabat Abu Hurairah Ra :
ﻓﻜﺎﻥ ﺧﺒﻴﺐ ﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﺳﻦ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻘﺘﻞ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ )
“Khubaib adalah orang yang pertama kali merintis shalat
ketika akan dibunuh”.
(HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi Syaibah
dalam kitab al-Mushannaf)
Jika semua perkara baru itu buruk, maka sahabat2 tsb
tidak akan berkata demikian.
________________________
Nah sekarang kita cermati makna hadits di atas dari
wahhabi salafi :
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Hadits ini mereka artikan :
Pertama : “ Barangsiapa yang berbuat hal baru dalam
agama, maka ia tertolak “
Jika mreka mngartikan demikian, maka mereka sengaja
membuang kalimat MAA LAITSA MINHU-nya (Yang
bersumber darinya). Maka haditsnya menjadi : ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ
ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Kedua : “ Barangsiapa yang berbuat hal baru yang tidak
ada perintahnya, maka ia tertolak “
Jika merka mngartikan seperti itu, berarti merka dengan
sengaja telah merubah makna hadits MAA LAITSA MINHU-
nya MENJADI MAA LAITSA MA-MUURAN BIHI (Yang tidak ada
perintahnya).
Maka haditsnya menjadi : ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ
ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﺄﻣﻮﺭﺍ ﺑﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Sungguh ini sebuah distorsi dalam makna hadits dan
sebuah pengelabuan pada umat muslim.
Jika mereka menentang dan berdalih : “ Bukankah Rasul
Saw telah memuthlakkan bahwa semua bid’ah adalah
sesat, ini dalilnya :
ﻭﺇﻳﺎﻛﻢ ﻭﻣﺤﺪﺛﺎﺕ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﻓﺈﻥ ﻛﻞ ﻣﺤﺪﺛﺔ ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ )ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ
ﺩﺍﻭﺩ
Maka kita jawab : Hadits tsb adalah ‘Aam Makhsus
(lafadznya umum namun dibatasi) dgn bukti banyak dalil
yang menjelaskannya sprti hadits 2 sahabat di atas.
Maksud hadits tsb adalah setiap perkara baru yang
brtentangan dgn al-quran dan hadits.
Perhatikan hadits riwayat imam Bukhori berikut :
ﺃﺷﺎﺭ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻋﻤﺮ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ
ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺑﺠﻤﻊ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺻﺤﻒ ﺣﻴﻦ ﻛﺜﺮ ﺍﻟﻘﺘﻞ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻓﻲ
ﻭﻗﻌﺔ ﺍﻟﻴﻤﺎﻣﺔ ﻓﺘﻮﻗﻒ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻭﻗﺎﻝ": ﻛﻴﻒ ﻧﻔﻌﻞ ﺷﻴﺌﺎ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ؟"
ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻋﻤﺮ": ﻫﻮ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮ". ﻓﻠﻢ ﻳﺰﻝ ﻋﻤﺮ ﻳﺮﺍﺟﻌﻪ ﺣﺘﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﺪﺭﻩ
ﻟﻪ ﻭﺑﻌﺚ ﺇﻟﻰ ﺯﻳﺪ ﺍﺑﻦ ﺛﺎﺑﺖ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻓﻜﻠﻔﻪ ﺑﺘﺘﺒﻊ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺟﻤﻌﻪ ﻗﺎﻝ
ﺯﻳﺪ": ﻓﻮﺍﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﻛﻠﻔﻮﻧﻲ ﻧﻘﻞ ﺟﺒﻞ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﺒﺎﻝ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﺛﻘﻞ ﻋﻠﻲ ﻣﻤﺎ ﻛﻠﻔﻨﻲ ﺑﻪ ﻣﻦ
ﺟﻤﻊ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ". ﻗﺎﻝ ﺯﻳﺪ": ﻛﻴﻒ ﺗﻔﻌﻠﻮﻥ ﺷﻴﺌﺎ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ". ﻗﺎﻝ": ﻫﻮ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮ" ﻓﻠﻢ ﻳﺰﻝ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻳﺮﺍﺟﻌﻨﻲ ﺣﺘﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻠﻪ
ﺻﺪﺭﻱ ﻟﻠﺬﻱ ﺷﺮﺡ ﻟﻪ ﺻﺪﺭ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﻭﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ .
“ Umar bin Khothtob member isayarat kpd Abu Bakar Ash-
Shiddiq untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu
mushaf ktika melihat banyak sahabat penghafal quran
telah gugur dalam perang yamamah. Tapi Abu Bakar diam
dan berkata “ Bagaimana aku melakukan sesuatu yang
tidak dilakukan oleh Rasul Saw ?” MaKA Umar menjawab “
Demi Allah itu suatu hal yang baik “. Beliau selalu
mengulangi hal itu hingga Allah melapangkan dadanya.
Kmudian Abu bakar memrintahkan Zaid bin Tsabit untuk
mengumpulkan Al-Quran, maka Zaid berkata “ Demi Allah
aku telah terbebani untuk memindah gunjung ke satu
gunung lainnya, bagaimana aku melakukan suatu hal
yang Rasul Saw tdiak melakukannya ?” maka Abu bakar
mnjawab “ Demi Allah itu suatu hal yang baik “. Abu bakar
trus mngulangi hal itu hingga Allah melapangkan dadaku
sbgaimana Allah telah melapangkan dada Umar dan Abu
Bakar “.
Coba perhatikan ucapan Umar dan Abu Bakar “ Demi Allah
merka mngatakan Rasul Saw tidak pernah melakukannya,
namun bukan berarti itu buruk.
ika merka mengatakan sahabat Abdullah bin Umar telah
berkata :
ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔ ﺿﻼﻟﺔ ﻭﺇﻥ ﺭﺁﻫﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺣﺴﻨﺔ
“ Setiap bid’ah itu sesat walaupun orang-orang
menganggapnya baik “.
Maka kita jawab :
Itu memang benar, maksudnya adalah segala bid’ah
tercela itu sesat walaupun orang-orang menganggapnya
baik
. Contohnhya bertaqarrub pd Allah dengan
mndengarkan lagu dangdutan..
Jika sahabat Abdullah bin Umar memuthlakkan bahwa
semua bid’ah itu sesat tanpa trkecuali walaupun orang2
mengangaapnya baik, lalu kenapa juga beliau pernah
berkata :
ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻧﻌﻤﺖ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ “ Itu bid’ah dan sebaik-baik bid’ah “
Saat beliau ditanya tentang sholat dhuha.
Lebih
lengkapnya :
ﻋﻦ ﺍﻷﻋﺮﺝ ﻗﺎﻝ : ﺳﺄﻟﺖ ﺍﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﻋﻦ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻀﺤﻰ ﻓﻘﺎﻝ": ﺑﺪﻋﺔ ﻭﻧﻌﻤﺖ
ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ
“ Dari A’raj berkata “ Aku bertanya kepada Ibnu Umar
tentang sholat dhuha, maka beliau menjawab “ Itu bid’ah
dan sebaik-baik bid’ah “.
Apakah pantas seorang sahabat sprti Abdullah bin Umar
tidak konsisten dalam ucapannya alias pllin-plan ??
sungguh sangat jauh dr hal itu.
KESIMPULAN :
- Cara membedakan bid’ah dholalah dan bid’ah hasanah
adalah :
ﻭﺍﻟﺘﻤﻴﻴﺰ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻭﺍﻟﺴﻴﺌﺔ ﺑﻤﻮﺍﻓﻘﺔ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻭﻋﺪﻣﻬﺎ
“ Dengan sesuai atau tidaknya dengan pokok-pokok
syare’at “.
- Orang yang mengartikan hadits :
ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻲ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ
Dengan : “ Bar angsiapa yang melakuakn hal baru maka
itu tertolak “ atau “ Brangsiapa yang melakukan hal baru
tanpa ada perintahnya maka ia tertolak “.
Orang yang mengartikan seperti itu, berarti ia telah
berbuat bid’ah dholalah / sesat, akrena tidak ada
dasarnya sama sekali baik dari Al-Quran, hadits maupun
atsarnya..
Dan telah sengaja merubah makna hadits Nabi
Saw tersebut..dan kita tahu apa sangksi bagi orang yang
telah berdusta atas nama Nabi Saw..Naudzu billahi min
dzaalik..
------------------------------------------------------------------------
Wess umbee se kopinee
Nah intinya Kalo kita salah memahami hadis tentang bidah yo seperti itu dengan gampangnya bisa menuduh amalan" orang lain dengan kata bidah dll padahal mereka bidah saja nga tau :V
‪#‎Sarkub‬ ‪#‎Aswaja‬ ‪#‎KampusMenyan‬

MATERI KULIAH -USHUL FIQIH FUL BAROKAH
(LIL WASAIL HUKMUL MAQASHID)

Felajarn kali ini untuk menaggapi mahluk aneh yang selalu gembor " MANA DALILNYA MANA DALINYA hihihi
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa wahabi itu sepertinya masih kebingungan memahami persoalan ibadah sehingga masih tetap saja ngeyel membid’ahkan amal-amal shalih kaum muslimin….
Kita ambil salah satu contoh kasus dari isu-isu bid’ah yang selalu menganggapnya bid’ah ...
Contoh kasus MAULID /Yasin Tahlil yang semenjak dulu sampai sekarang terus selalu saja ada menganggapnya berdosa jika melakukannya hihihi
Walaupun sudah banyak penjelasan dijelaskan oleh para pelaku Maulid, tetapi rupanya wahabi yang uyu" elum bisa paham-paham juga. Sebabnya mungkin karena keegoisan atau karena belum mengerti persoalan ibadah. Makluminn leeee
Bagi kita yang pernah mengikuti acara Maulid Tahlill dll a, tentunya kita tahu bahwa di dalam acara 'contoh' Maulid Nabi itu berisi aktifitas yang isinya antara lain tholabul ilmi, shodaqoh, dzikir, pembacaan biografi Nabi dan biasanya di akhir acara ada tausiyah keislaman.pastinya juga ada full menyann.. Nah… kita pastinya sangat hafal dengan dalil-dalil tentang tholabul ilmi, shodaqoh, dzikir dan tausiyah, dalil-dalilnya sudah banyak tersebar di seantero Dunia nyata, silakan cari sendiri..hihi mbahh lagi sibuk ga sempet nyariin
apa yang ingin mbahh bedah disini , yaitu tentang pertanya'an " para wahabut bahwa adakah Dalil dari “Peringatan MAULID”? Benar-benar adakah dalilnya atau tidak ada?
Sebelum menjawabnya, di sini sebaiknya akan dijelaskan sedikit tentang kaidah ushul fiqh. Kita mulai dari suatu kaidah dalam ushul fiqh yang sering diLotarkan oleh sebagian teman-teman bahwa: “Asal semua ibadah adalah haram, sampai ada dalil yang menghalalkannya atau menyuruhnya” titik !!
Bermula dari kaidah ini suatu amalan yang diangap ibadah selalu muncul pertanyaan: “Mana Dalilnya?”
Ini karena amalan dipersepsikan kepada sifat dari ibadah yang tauqif. Permasalahannya adalah sudah tahukah sampean , untuk ibadah yang jenis atau macam apakah kaidah tersebut seharusnya diterapkan?
- Penjelasan dari Kitab
-------------------------
Kita akan coba mengambil penjelasan dari kitab ushul Fiqh:
الأصل في العبادات التوقيف
وفي هذه الليلة أود أن أقف عند قضية أساسية في العبادات جميعاً وهي قاعدة معروفة عند أهل العلم، ” أن الأصل في العبادات التوقيف ” كما “أن الأصل في المعاملات والعقود الإباحة”، وهذه قاعدة نفيسة ومهمة جداً ونافعة للإنسان، فبالنسبة للعبادات لا يجوز للإنسان أن يخترع من نفسه عبادةً لم يأذن بها الله عز وجل، بل لو فعل لكان قد شرع في الدين ما لم يأذن به الله، فلم يكن لأحدٍ أن يتصرف في شأن الصلاة أو الزكاة أو الصوم أو الحج زيادة أو نقصاً أو تقديماً أو تأخيراً أو غير ذلك، ليس لأحد أن يفعل هذا، بل هذه الأمور إنما تتلقى عن الشارع، ولا يلزم لها تعليل، بل هي كما يقول الأصوليون: غير معقولة المعنى، أو تعبدية، بمعنى أنه ليس في عقولنا نحن ما يبين لماذا كانت الظهر أربعاً، والعصر أربعاً، والمغرب ثلاثاً، والفجر ركعتين، ليس عندنا ما يدل على ذلك إلا أننا آمنا بالله جل وعلا، وصدّقنا رسوله صلى الله عليه وسلم، فجاءنا بهذا فقبلناه، هذا هو طريق معرفة العقائد وطريق معرفة العبادات، فمبناها على التوقيف والسمع والنقل لا غير، بخلاف المعاملات والعقود ونحوها، فإن الأصل فيها الإباحة والإذن إلا إذا ورد دليل على المنع منها، فلو فرض مثلاً أن الناس اخترعوا طريقة جديدة في المعاملة في البيع والشراء عقداً جديداً لم يكن موجوداً في عهد النبوة، وهذا العقد ليس فيه منع، ليس فيه رباً ولا غرر ولا جهالة ولا ظلم ولا شيء يتعارض مع أصول الشريعة، فحينئذٍ نقول: هذا العقد مباح؛
Langsung ke maksudnya …. Bahwa yang dinamakan ibadah sifatnya "tauqif" yaitu sudah ditetapkan dan tidak boleh ditambah-tambah atau dikurangi atau mendahulukan atau melebihkan atau apapun itu…., contohnya ibadah wajib shalat lima waktu, ibadah haji, dll.
Tentunya ini berbeda dengan muamalah yang asalnya boleh sampai adanya dalil yang melarangnya…
Nah sekarang kita lihat apakah sebenarnya ibadah tauqif itu….
التوقيف في صفة العبادة
العبادة توقيفية في كل شيء، توقيفية في صفتها -في صفة العبادة- فلا يجوز لأحد أن يزيد أو ينقص، كأن يسجد قبل أن يركع مثلاً أو يجلس قبل أن يسجد، أو يجلس للتشهد في غير محل الجلوس، فهيئة العبادة توقيفية منقولة عن الشارع
Tauqifi dalam sifat ibadah
Ibadah itu tauqifi dalam semua hal, dalam sifatnya….
Maka tidak boleh untuk menambah dan megurangi, seperti sujud sebelum ruku’, atau duduk sebelum sujud, atau duduk tasyahud tidak pada tempatnya… oleh karena itu, yang namanya ibadah itu tauqifi dinuqil dari syari’ ( pembuat syari’ah yaitu Gusti Allah ).
التوقيف في زمن العبادة زمان العبادة توقيفي -أيضاً- فلا يجوز لأحد أن يخترع زماناً للعبادة لم ترد، مثل أن يقول مثلاً
Tauqifi dalam waktu pelaksanaan ibadah
Waktu pelaksanaan ibadah juga tauqifi. Maka tidak boleh seseorang itu membuat-buat ibadah di waktu tertentu yang syari’ tidak memerintahkannya.
التوقيف في نوع العبادة
كذلك لابد أن تكون العبادة مشروعة في نوعها، وأعني بنوعها أن يكون جنس العبادة مشروعاً، فلا يجوز لأحد أن يتعبد بأمر لم يشرع أصلاً، مثل من يتعبدون بالوقوف في الشمس، أو يحفر لنفسه في الأرض ويدفن بعض جسده ويقول: أريد أن أهذب وأربي وأروض نفسي مثلاً، فهذه بدعة!
Tauqifi dalam macamnya ibadah
Begitu juga ibadah juga harus disyaratkan sesuai dengan syari’at….
Artinya termasuk dari macam / jenis ibadah yang disyari’atkan. Maka tidak sah bagi orang yang menyembah sesuatu yang tidak disyari’atkan, seperti menyembah matahari. Atau memendam jasadnya sebagian sembari berkata: aku ingin melatih badanku misalkan. Maka ini semua bid’ah.
التوقيف في مكان العبادة
كذلك مكان العبادة لابد أن يكون مشروعاً، فلا يجوز للإنسان أن يتعبد عبادة في غير مكانها، فلو وقف الإنسان -مثلاً- يوم عرفة بالـمزدلفة فلا يكون حجاً أو وقف بـمنى، أو بات ليلة المزدلفة بـعرفة، أو بات ليالي منى بالـمزدلفة أو بـعرفة، فإنه لا يكون أدّى ما يجب عليه، بل يجب أن يلتزم بالمكان الذي حدده الشارع إلى غير ذلك.
Begitu juga tauqifi dalam tempat ibadah.
Maka ini juga harus masyru’. Maka tidak boleh beribadah tidak pada tempat yang sudah disyari’atkan. Seperti jika seseorang wukuf di Muzdalifah, maka ini bukan haji. Atau wuquf di Mina, atau bermalam ( muzdalifah ) di ‘Arafah, dan sebaliknya, maka ini semua bukanlah sesuatu yang masyru’. Kita wajib melaksanakan ibadah sesuai tempat yang sudah disyari’atkan oleh syari’.
- Ibadah Mahdhoh, Ghoiru Mahdhoh, Wasail dan Maqosid
-------------------------------
Berdasarkan dari penjelasan- kitab di atas dapat ditangkap 4 point ingat 4 pinn bukan 5 hihih dan bila diperhatikan maka di situ didapat kesimpulan bahwa ibadah yang sifatnya tauqif itu adalah ibadah mahdhoh… Titik !!
Jadi yang dimaksud ibadah dalam kaidah “Asal semua ibadah adalah haram, sampai ada dalil yang menghalalkannya atau menyuruhnya”, adalah diterapkan untuk ibadah yang sifatnya mahdoh saja, bukan semua ibadah.
Nah untuk bisa membedakannya, ibadah harus dilihat wasail (perantara) dan maqoshidnya (tujuan).
Untuk ibadah yang sifatny mahdhoh Cuma ada maqoshid, sedangkan untuk ghoiru mahdhoh ada maqoshid juga ada wasail.
CONTOH:
Ibadah Sholat, ini sudah jelas karena ibadah yang dzatnya adalah ibadah, maka yang ada Cuma maqoshid (tujuan) tidak ada wasail.
Misalnya Anda seorang penulis di blog /FB, kegiatan menulis sendiri itu bukan ibadah maka hukumnya mubah. Tapi karena anda mengharapkan ridho Allah dalam rangka dakwah dengan jalan menulis di blog /FB maka dalam Islam ini berpahala dan termasuk ibadah. Heheh faham!!
Padahal ini nggak ada contoh dari Rasulullah,?
Wasailnya anda menulis di blog /FB, maqoshidnya anda mengharapkan ridho Allah dalam rangka berdakwah.
Pekerjaan menulis yang begini ini juga termasuk ibadah, tapi ibadah semacam ini tidak dicontohkan oleh Rasul Saw, juga tidak dicontohkan oleh Para Sahabat Nabi.
Hihi biar otaknya rada cair seruput ddulu coffinya
Lanjut...Nah, yang salah kaprah ketika anda menganggap kegiatan menulis ini disamakan dengan ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdhoh. Kalau dipandang sedemikian maka seharusnya MENULIS dianggap bid’ah sesat (dholalah).
Begitulah, karena salah anggapan seperti inilah, maka selama ini sedikit-sedikit ada yg bilang bid’ah! Tahlilan itu bid’ah, Maulid juga bid’ah, Yasinan itu bid’ah dan berdosa para pelakunya kaya wahabi yang gembar gembro bid'ah sesat neraka
.
Padahal semua ini adalah ibadah ghoiru mahdhoh yang ada wasail dan maqosid-nya sebagaimana contoh di atas. Jadi kalau semua itu ditanya mana dalilnya pasti ada di maqosidnya, demikianlah.
Yaudah mbah kasih contoh lagi biar semakin jelas ?
Di Indonesia ada macam-macam kegiatan Pengajian (kajian ilmiyyah) dan Tabligh Akbar. Awalnya bentuk kedua kegiatan ini bukan ibadah dan tidak ada contoh dari Rasul jadi hukumnya mubah. Tapi karena isi dari kegiatan ini adalah ibadah berupa tholabul ilmi ,pembacaan Al Quran dan tausiyah atau bahkan dakwah maka kegiatan pengajian dan tabligh akbar insyaallah berpahala, bernilai ibadah.
(wasailnya kegiatan pengajian dan tabligh akbar, maqoshidnya mengharapkan ridho Allah dalam rangka tholabul ilmi dan berdakwah).
Sekali lagi jika anda menganggap kegiatan pengajian dan tabligh ini sebuah ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdhoh maka sudah pasti ini namanya bid’ah dholalah.
Demikian juga dengan Maulid, bahwa maulid adalah wasail (perantara atau ada yang bilang sarana), maqoshidnya adalah mengenal Rasul dan mengagungkannya. Bagaimanakah hukum awal dari Maulid?
Jawabnny adalah mubah, boleh dilakukan juga boleh tidak dilakukan.
Tapi kenapa menjadi sunah? Menjadi sunah dikarenakan hukum maqoshidnya adalah sunah (mengenal dan mengagungkn Rasul adalah Sunah disamping ada bacaan Quran +tausyiah).
Karena yang namanya hukum wasail itu mengikuti hukum maqoshid (Lil Wasail hukmul Maqoshid) – ini adalah kaidah ushul fiqh.
- Pertanyaan yang Salah Bagaimana Dijawab?
-----------------
Contoh gampangnya untuk penjelasan Lil Wasail hukmul Maoshid: anda membeli air hukumnya mubah, mau beli atau nggak, gak ada dosanya. Tapi suatu saat tiba waktu sholat wajib sedangkan air sama sekali tidak ada kecuali harus membelinya dan anda punya kemampuan untuk itu maka hukum membeli air adalah wajib.
Kembali lagi ke Maulid. Apakah maulid bisa menjadi sesuatu yang bid’ah (dholalah)? Ya, bisa jika anda menganggap Maulid adalah sebuah ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdhoh.
Perlu digaris bawahi pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah ada dalilnya memperingati maulid Nabi? INI ADALAH PERTANYAAN YANG SALAH. Tidak ada ceritanya namanya wasail ada dalil qoth’inya.
Contoh lagi biar lebih gampang mencerna: anda berangkat bersekolah, ini adalah wasail. Maqoshidnya adalah tholabul ilmi. Karena tholabul ilmi itu hukumnya wajib maka berangkat ke sekolah pun menjadi wajib dan bernilai ibadah. Dalil yang ada adalah dalil tentang tholabul ilmi. Jika ditanya: “Manakah dalil yang menyuruh kita berangkat ke sekolah?” JELAS TIDAK ADA!! Karena ini adalaha wasail atau sarana.
Begitu pula dengan Maulid, kalau anda tanya dalil maqoshidnya yaitu tentang mengenal dan mengagungkan Rasul ya pasti ada dalilnya dong? Tapi jika anda tanya dalil wasailnya, yaitu memperingati Maulid? JELAS TIDAK ADA!! Karena ini adalaha wasail atau sarana.
Jangan sedikit-sedikit bertanya “MANA DALILNYA” tanpa tahu sesuatu hal itu perlu dalil atau tidak. Sadarlah kalian, bagaimana pertanyaan bisa dijawab kalau pertanyaannya saja salah?
Sejak sekarang mulailah belajar membedakan apakah sesuatu itu butuh dalil atau tidak. Sebab tidak semua hal itu harus ada dalilnya

Dan yang terakhir mbah hadirkan Nasehat SYEH AlBANI buat ente " yang dikit" ttanya Mana dlinnya Mana dalinya Mana dalinya :V
، فترى الرَّجلَ العامي الذي لا يفهم شيئًا إذا سألَ العالم عن مسألة ما ، ما حُكمُها ؟ سواءٌ أكانَ الجوابُ نفيًا ومنعًا بادرَ بمطالبته : ما الدليل ؟ وليس بإمكان ذاك العالم - أحيانًا - إقامة الدليل ، خاصةً إذا كان الدليلُ مستنبطًا ومُقتبسًا اقتباسًا ، وليس منصوصًا عليه في الكتاب والسنة حتى تُوردَ الدليل ، ففي مثل هذه المسألة لا ينبغي على السائل أن يتعمَّق ويقول : ما الدليل ؟ يجبُ أن يَعرفَ نفسه : هل هو من أهل الدليل أم لا ؟ هل عنده مُشاركةٌ في معرفة العامِّ والخاصِّ ، المُطلقِ والمُقيَّدِ والناسخ والمنسوخ ، وهو لا يفقه شيئًا مِن هذا ، فهل يفيدُه قولُه : ما هو الدليلُ ؟! وعلى ماذا ؟! أقولُ : على
"Engkau melihat akan seorang awam yang tidak mengetahui sesuatupun jika bertanya kepada seorang alim tentang hukum suatu permasalahan : Apakah hukumnya? Baik jawaban itu berupa penafian atau pelarangan, ia segera menuntut alim tersebut : Apa dalilnya???? Ndii dalileee ???
Dan terkadang tidak memungkinkan bagi alim tersebut untuk menegakkan dalil, khususnya jika dalil tersebut merupakan hasil istimbath dan iqtibas (pengambilan), serta tidak termaktub nash-nashnya dalam Kitab dan sunnah, sehingga dapat dibawakan dalilnya. Maka dalam masalah seperti ini, tidak selayaknya bagi penanya untuk berdalam-dalam dan kemudian berkata : Apakah dalilnya? Dan wajib atasnya untuk mengenal dirinya : Apakah ia termasuk ahli dalil atau bukan?????
Apakah dia memiliki andil dalam pengetahuan tentang 'aam wa khas, Muthlaq wa Muqayyad, naasikh wa mansuukh, sedangkan dia tidak memahami sedikitpun dari hal ini. Maka apakah ia akan mendapat manfaat dari perkataannya : Apakah dalilnya? Ataukah mengapa?"
(Tanya Jawab bersama Syaikh Albani. Muhammad Nasiruddin al Albani. hal 19 - 20)
Haha saya jadi berfikir beginiiiii
"""Ternyata seorang syaikh yang anti taqlid-pun gerah ketika ditanya-tanya : apa dalilnya?mana dalilnya deee ele le elee cry emoticon grin emoticon apalagi saya ga gerah ga jengekel kalo ada orang yang dikit" naya mana dalilnya ???
Sooooo. Jika seorang awam gak boleh sembarangan nanya "apa dalilnya?" kepada seorang alim, maka bagaimana dengan sebagian orang bodoh yang gemar menyerang orang awam dengan pertanyaan "apa dalilnya?". apakah manfaat yang dia dapatkan dari pertanyaan itu selain memecah-belah, menimbulkan permusuhan serta untuk merendahkan mereka yang memang awam
Ckckckck ne ono sing teko ndi dalilee ,,pundi dalile ,,mana dalilnya mending di bakarke menyan
‪#‎Sarkub‬ ‪#‎Aswaja‬ ‪#‎KampusMenyan‬